Selamat Pagi

Just another Ruruh Sara's words

Aliran Buntu Maret 5, 2016

Filed under: Tak Berkategori — Utarid @ 9:38 am

Lama-lama, aliran kata-kata buntu. Berhenti begitu saja karena lelah atau karena jalan jalan yang mesti dilalui sudah penuh. Oleh memori, janji, cita-cita, agenda, atau malah sampah dari itu semua. Adakah yang mesti disalahkan? Barangkali kita bisa menyalahkan kaki yang menuju  satu titik yang sama setiap harinya, atau pada tangan yang menggambar hal itu-itu saja. Atau pada kepala yang terus menerus mengunyah hal yang sama setiap harinya.

Yang patut aku khawatirkan dari ini semua adalah adanya kemungkinan hal-hal yang ingin ku kenang tapi tak pernah sepenuhnya aku genggam. Persahabatan dan perjuangan adalah dua dari sekian hal yang ada kalanya ingin aku sampaikan dalam baris rapi yang enak untuk dibaca – jika tidak ingin mengatakan untuk dikenang -.

Manakah yang lebih mudah, membobol aliran yang buntu, atau memutus dan memotong jalur aliran itu. Bahkan jika perlu, memendamnya dalam-dalam di kabin. Lalu biarkan lenyap tanpa peringatan.

Iklan
 

Sedikit tentang Perjalanan Pulang Oktober 7, 2014

Filed under: Mbuh-mbuhan — Utarid @ 12:01 pm
Tags:

Apa yang paling kau rindukan dari sebuah perjalanan untuk pulang? Barangkali kau akan mengeja dengan bahagia tiap tiap garis marka di jalan raya. Garis putus, garis sambung, yang kau tahu takkan benar-benar memutus dan menyambung. Atau kau merindukan deru tipis mesin AC yang terus berusaha membuaimu, dengan ingatan dan kenangan yang mengejar tanpa ampun. Kau mungkin boleh berusaha terjaga, dalam kesadaran penuh bahwa kenangan yang berlarian itu tak lebih dari dongeng nina bobok, yang beberapa menit kemudian akan membawamu terlelap dan merilekskan otot-otot lehermu hingga ia ke kanan ke kiri sembari sesekali terantuk jendela. Sakit dan pedih. Persis ketika kau harus tahu bahwa apa yang selama ini berlarian di anganmu takkan pernah terkejar. Bahkan dengan apa yang dengan bangga  kau sebut sebagai merantau lalu pulang.  Barangkali kau harus belajar bagaimana kenangan tak mesti pulang ke rumahnya. Ia mesti membuat rumah baru untuk ia tuju ketika ia pulang sekembali dari rimba pengembaraan.

 

Pada Sebuah Titik April 20, 2014

Filed under: Tak Berkategori — Utarid @ 8:30 pm

Saya berada pada sebuah titik. Saat saya tak tahu apakah ini terlalu gelap atau terlalu terang. Apakah ini akan menghadirkan temaram yang lembab dan merambat masuk ke dalam kepala ataukah ini hanya tipuan untuk warna warna lain yang berbaris rapi menunggu jadwal tayang.
Saya berada pada sebuah titik ketika maju adalah pukulan telak dan mundur adalah melompat masuk ke jurang. Ketika cicak-cicak semakin berapi-api menyeret ketakutan-ketakutan masuk ke dalam mimpi. Dan kenangan makin berdesakan untuk keluar, berjalan jalan menginvasi tempat-tempat yang barangkali selalu ingin kau amankan.
Apa yang kau tahu tentang sebuah titik?

 

Tentang Kedekatan Januari 26, 2014

Filed under: Tak Berkategori — Utarid @ 9:49 am

Apakah kedekatan memiliki jarak?

Kita lewati lebih dari lima tahun kebersamaan, dengan kisah, kasih, tawa, dan tangis yang kemudian kurasai sama. Sama-sama manis. Kita sepakat untuk tidak pernah memberi nama apa yang sebenarnya tengah kita jalin, antara kasih sayang dan rasa memiliki yang semakin lama kuraba sebagai sebuah keluarga. Mungkin kita berada di sana.
Kita melewati episode-episode tak terhitung, dengan jalan cerita kita masing-masing. Kita telah sepakat membagi apa yang aku alami dengan apa yang kau alami, dan pada akhirnya kita mengaduknya menjadi satu. Hingga kisah milikmu lebur dan mengabur menjadi apa yang menjadi kisahku, begitu pula sebaliknya. Lagi-lagi kita sepaham bahwa ini bukan momok dan tidak patut untuk kita khawatirkan, bahkan terlalu naïf untuk kita angkat sebagai pokok pembicaraan.
Lalu hari bergerak cepat, membawaku semakin dekat denganmu, dengan diri dan inginmu.
Aku kian merasa semakin mendekatimu.  Malangnya, aku mulai bisa melihat isi kepalamu. Kita menjalani kisah bersama dengan kenangan yang sama panjangnya, namun apa yang ada dalam kepalamu sungguh tak sama dengan apa yang pernah kuisikan ke kepalaku. Aku tidak bisa mencerna karena nyatanya, tiap kata yang muncul di kepalamu memiliki kunci tersendiri yang tidak kupunyai.
Sadar aku takkan bisa membacanya, kini aku memahami bahwa kau memiliki sistem kata yang berbeda, sistem kalimat yang berbeda, dan struktur wacana yang berbeda. Bahkan sebenarnya, aku tak mengerti apakah apa yang aku sebutkan tadi adalah sebutan yang benar untuk apa yang ada di kepalamu.

Semakin mendekatimu, membaca kepalamu, memunculkan kesadaran yang lain. Ada jarak yang sedang membangun dirinya sendiri, di antara pemahaman dan perasaan kita masing-masing.

 

Elegi Ketuk Pintu Januari 16, 2014

Filed under: Tak Berkategori — Utarid @ 2:53 am

Aku menemuimu dalam kunjungan yang hangat, sebagaimana seorang kawan lama yang mampir untuk minum teh dan berbincang-bincang riang.
Tapi itu hanya anganku, karena nyatanya bertandang ke rumahmu, menemuimu, bukanlah hal yang mudah. Bahkan aku harus berpikir ulang hanya untuk mengatur bagaimana seharusnya aku mengetuk pintu. Aku ingin mengetuk pintu dengan tenang dan tanpa tekanan, tapi kau akan berpikir aku hanya main-main dan tidak serius dengan keinginanku untuk dibukakan pintu dan bertemu. Aku ingin mengucapkan salam dan beberapa kalimat sapaan. Sayangnya, aku tak yakin kau mampu menganalisis maksim kebenaran dalam sapaanku. Sebenarnya mungkin saja aku mengetuk dengan keras dan mantap. Itu hanya akan membuatmu ketakutan, bahkan sebelum ketukan ketigaku di daun pintumu.

Lantas bagaimana bila keinginan untuk menemuimu semakin menggebu? Mungkin saja pada akhirnya pikiranku kalah dan aku datang ke rumahmu dalam sepenuhnya mauku, memenuhi kebulatan inginku. Aku datang dan mengetuk pintu dengan energi sebesar tekadku.. Kau pingsan sebelum ketukan pertamaku sempurna engkau dengarkan. Dan kau tak pernah membuka pintu itu.

Lama tak mendengar suaramu dan tak mampu mengintai bayangmu dari balik pintu, aku akan tersadar. Takkan ada dua cangkir teh hangat dan cerita-cerita yang menari di antara kita. 

 

Beberapa Hitungan Menuju Perpisahan II Januari 15, 2014

Filed under: daily — Utarid @ 9:23 pm

Ada yang belum sempat tersampaikan, melalui ruang dan waktu yang dibatasi kotak-kotak bernama kesempatan. Ada beberapa hal yang terlewatkan karena terlalu samar. Memudar dalam kabut yang kita sebut keraguan.

Ini beberapa hitungan menuju perpisahan; pada gempita sekaligus sepi yang melebur berdesakan. Dan langkah mundur beberapa niat, yang katamu demi kebaikan. Kau terus menghitung seolah telah mengemasi tiap percakapan kita dan membungkusnya rapat-rapat seakan kadaluarsa.

Mata air dari atas pipiku belum putus menyentuh tanah. Sedapat mungkin kupastikan ia habis sebelum hitunganmu berakhir. Jadi, kau tak perlu khawatir pada hitungan, langkah, ataupun baris-baris air. Mereka akan berbiak, mengembang kemudian bisa menyusut dengan cepat. Maka, kau boleh mulai menyiapkan epilog, barangkali bisa kau gunakan pula sebagai pembuka bagi perpisahan yang kita amini kehadirannya.

Perpisahan memiliki hitungannya sendiri. Membiarkan kami terus berhitung dan bertransaksi harapan. Barangkali ia lebih cepat, atau mungkin lebih lambat dari perkiraan. Dan kita menenangkan diri dengan bersembunyi pada nyaman kata beberapa.

 

Untitled Desember 27, 2013

Filed under: sekitar kita — Utarid @ 11:25 am

Bahkan ketika ia deras mengalir dalam terang, cemerlang dan berpendaran dalam gelap, kau takkan bisa melihatnya. Karena kau menutup mata.